Yohanes bisa bersikap rendah hati karena ia mengenal siapakah dirinya, apa tugas, dan panggilannya. Ia tahu dan sadar bahwa ia bukanlah Sang Mesias karena itu ia hanya membaptis dengan air. Ia bukanlah Elia karena itu ia tidak melakukan mejuzat-mujizat seperti yang dilakukan Elia. Ia bukanlah Nabi yang akan datang karena itu ia hanyalah suara orang yang berseru-seru di padang gurun. Tugas Yohanes hanyalah untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan; meluruskan jalan Tuhan. Ia bertugas membuka jalan dan menghantar orang lain untuk sampai kepada Tuhan. Ia tidak mengajak orang untuk mengagumi kehebatan dirinya, tetapi mengajak orang untuk sampai pada Tuhan. Dialah yang paling patut untuk dikagumi.
Nah, teman-teman, kita sendiri bisa bertanya, apakah kita sudah cukup mengenal siapakah diri kita, apa tugas, dan panggilan hidup kita? Apakah kita sudah berusaha untuk jujur pada diri kita sendiri, mengenal, dan berusaha menerimanya? Banyak orang tidak bisa bersikap rendah hati karena ia tidak mau jujur pada dirinya sendiri, karena ia tidak mau menerima dirinya sendiri; Ia tidak mau mengakui kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan dirinya; Ia sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain; Ia tidak pernah puas dan selalu iri terhadap keberhasilan orang lain; Ia bangga kalau banyak orang mengagumi kehebatan dirinya, dan sebagainya. Dengan demikian, orang baru bisa bersikap rendah hati bila ia mampu mengenal dan menerima dirinya sendiri. Mari kita mengisi masa muda kita dengan belajar rendah hati, dengan belajar mengenal dan menerima diri kita sendiri. (fr. Kurniawan, cm / kurniawancm@gmail.com).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar