Sumbangan Tulisan

Terima kasih Anda telah mengunjungi blog ini. Semoga Anda terinspirasi untuk Diam Sejenak 'tuk merenungkan hidup ini.

Kirimkan renungan/refleksi/pengalaman iman Anda ke blog ini untuk ditampilkan agar pembaca terinspirasi. Anda bisa mengirimkan ke email: diamsejenak@gmail.com

kategori

Selasa, 21 Agustus 2007

“ Untuk Mu: Ku Ingin ”

Aku memang memintamu mendorong batu itu, tetapi tidak untuk menggesernya.”


“Aku harus menjadi tegar. Apapun kata mereka, aku telah dilahirkan dengan dua kaki untuk berpijak di bumiku. Dengan dua tangan untuk mendekap kehangatanku. Aku akan menatap dengan mataku dan berpikir dengan kepalaku. Aku punya satu hati…dan aku tak ingin hati itu menjadi berduka hanya karena sejarahku. Kadang imajinasiku bergolak dalam batok kepalaku yang kecil. Namun imajinasi, dia hanya selalu seperti angin, berhembus dari kejauhan membawa kesegaran –sejenak menghilangkan penat – lalu…lalu tanpa jejak. Hah, aku tak setegar dadaku yang bidang atau semanis parasku yang elok. Aku tahu, aku hanyalah kucing manis penyakitan, yang lemah memandang hidup. Aku tidak pernah berani berontak dalam belenggu cinta yang mengekang –mengikat – hingga menghilangkan akuku yang bebas. Saat yang dekat pergi dan menghilang aku hanya dapat memandang, gundah, namun tak ada kata. Bukan tak mampu berkata – lebur, aku pun menjadi tiada.

***


Lari selalu muncul sebagai jawaban yang tidak pernah kuundang, namun ia seakan mengerti apa yang bergolak liar dalam jiwaku. Bertemu dengan banyak orang, bercengkrama ria, melupakan segalanya, menjadi pribadi agresif, menyebarkan ‘magi pesona’, dan terbang! Atau sedikit bertualang gila, mencari wajah wajah simpatik yang terpajang di etalase kampus atau Plaza, jika enak diajak berbagi cerita, punya selera humor yang cukup dan jiwa berwarnah Pink, mudah terharu namun tak punya cukup waktu untuk menjadi sahabat, tak apalah jika dijadikan teman dekat, sebuah komitment infantil karena aku tak percaya tentang cinta.

***

Dalam waktu yang berjalan ku coba menyembunyikan sejarah ku untuk sebuah kata ‘damai’. Aku tak ingin terusik, seperti prinsip yang selalu ku jaga ‘aku tak mau mengusik’. Sebulan, dua bulan, lalu tahun berganti. Kusadari, aku harus menyumpahi diri ini. Apa artinya damai, jika dipojok hati paling sempit yang telah kupalang –kupagari dengan ego-egoku terus berisik. Mereka berkata tentang kepengecutan. Aku berontak, aku bukan pengecut, aku hanya tak ingin bentrok. Aku hanya tak ingin menghabiskan energiku untuk apa yang tidak berarti.

***

Malam ini, lelah dan aku ingin tertidur lebih awal. Aku ingin lebih cepat melupakan kebisingan siang yang meresahkan itu. Angin membantuku, dan aku terlelap. Entah berapa lama, aku tak tahu, seakan terjaga –aku bermimpi; tetapi ini bukan sekedar mimpi, seakan nyata. Apakah pratanda, tidak ia nyata. Aku melihat Tuhan tersenyum! Dan kudengar bisik-Nya, “Anakku bangunlah, telah kuletakkan sebuah batu besar di halaman rumahmu, doronglah untukKu.” Lalu tinggallah ketiadaan. Aku terjaga! Keringat mengalir deras –gundah, aku merasa gelisah. Bergegas kupercepat langkahku dan ahk, aku melihat batu itu. Kuraba dan ku tahu ia nyata. ‘doronglah!’ kata itu terngiang; maka aku mendorongnya. Sebulan, waktu berjalan pasti menghabiskan setiap angka pada lembar kalenderku, tiga bula dan lalu tiga tahun. Aku benci, dan aku telah dibodohi. Jiwaku pernah berteriak tentang kepengecutanku, tetapi kini aku tahu mahkluk yang lebih pengecut dari jiwaku. Yang menyembunyikan diriNya dibalik jubah KemahaKuasaan. Ia bermain dengan kekuasaan untuk memperdayai kerapuhan jiwa-jiwa yang lemah. Maka aku berteriak sekuat dan semampuku. “Tuhan, Engkau penipu. Engkau menyuruhku mendorong batu yang telah Kau letakkan untukku, tetapi lihatlah banyak waktu terpakai dan tahun berlalu namun ia tidak bergeser sedikit pun. Jangan bingungkan aku dalam kesia-siaan ini.

***

Malam ini Ia datang padaku. Seperti malam-malam yang kemarin, Ia hadir dalam mimpi. Aku melihat senyumNya dan ia berkata, “adakah aku memintamu menggeser batu itu? Tidak, sekali-kali tidak! Dan adakah Aku menipumu? Lihatlah, kerja kerasmu telah berbuah. Engkau kini menjadi tegap, ototmu adakah lagi yang akan menertawakanmu? Oh, engkau lebih sehat dan wajahmu lebih ‘berwarnah’; apakah itu buah dari dustaku? Belajarlah dari padaku, sebab Aku adalah sang cinta dari cinta itu. Lalu, Ia menghilang dalam ketiadaan.

***

Pagi ini aku terbangun, kulihat hari tak seperti biasanya। Aku telah jatuh cinta dengan bayangan yang selalu hadir dalam kesamaan malam-malamku. Dan jiwaku, aku berkata untuknya kepadaMu, “Aku ingin kepadaMu… meletakkan segala resah dan ketidak mengertian. Sebab berat bagiku untuk menggeser sejarah itu namun…kini Engkau tahu apa yang bermain indah dalam imajiku. (dani)



Artikel ini dikirim oleh saudara Dani....

Tidak ada komentar: