Sumbangan Tulisan

Terima kasih Anda telah mengunjungi blog ini. Semoga Anda terinspirasi untuk Diam Sejenak 'tuk merenungkan hidup ini.

Kirimkan renungan/refleksi/pengalaman iman Anda ke blog ini untuk ditampilkan agar pembaca terinspirasi. Anda bisa mengirimkan ke email: diamsejenak@gmail.com

kategori

Selasa, 18 Desember 2007

Matius 1:18-24

Sebagaimana Allah memilih Maria sebagai wanita yang pantas menjadi Ibu bagi Putera-Nya, demikian juga Allah memilih Yusuf sebagai pribadi yang akan mendampingi Yesus, Putera-Nya, bersama Maria. Allah tidak asal memilih. Allah memilih orang yang tepat. Allah memilih Yusuf, seorang yang tulus hati, setia dan taat pada kehendak Allah serta menghormati dan tidak mau mencemarkan nama Maria. Tidak hanya itu, Yusuf adalah seorang pribadi yang tidak banyak bicara. Yusuf lebih suka bekerja.

Yusuf berhadapan dengan peristiwa yang amat sulit di dalam hidupnya. Dia harus menerima kenyataan di mana Maria, tunangannya, ternyata sudah mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Peristiwa itu membuat Yusuf bermaksud menceraikan Maria dengan alasan tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum. Tetapi ketika Malaikat menampakkan diri dan menjelaskan mengenai apa yang dialami oleh Maria, Yusuf segera bertindak mengambil Maria sebagai isterinya. Yusuf tidak ingin mengetahui aneka alasan yang diberikan oleh Malaikat Tuhan. Yusuf tidak perlu bertanya karena dia hanya perlu mengetahui bahwa segala apa yang terjadi dengan Maria adalah kehendak Allah sendiri. Yusuf bersedia menerima panggilan dan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Sebagaimana Allah memberikan panggilan dan tanggung jawab kepada Yusuf, aku pun dipanggil dan diberi tanggung jawab untuk menerima dan memelihara siapa saja dan apa saja yang hadir di dalam hidupku menurut kehendak Allah. Aku dipanggil dan diberi tanggung jawab karena Allah mempercayai dan melihat kemampuan yang ada di dalam diriku. Apapun status dan profesiku, aku selalu mengerjakan panggilan dan tanggung jawabku dalam keheningan doa dan bukan dalam untaian kata-kata yang tidak berwujud. (bastian-wawan, cm)

Tidak ada komentar: