Sumbangan Tulisan

Terima kasih Anda telah mengunjungi blog ini. Semoga Anda terinspirasi untuk Diam Sejenak 'tuk merenungkan hidup ini.

Kirimkan renungan/refleksi/pengalaman iman Anda ke blog ini untuk ditampilkan agar pembaca terinspirasi. Anda bisa mengirimkan ke email: diamsejenak@gmail.com

kategori

Kamis, 30 Agustus 2007

Kebahagiaan: Pilihan Radikal Pengikut YESUS

Setiap manusia memiliki orientasi meraih masa depan yang damai, sejahtera, makmur dan bahagia. Setiap kali ia berusaha untuk membangun suatu hidup yang bijaksana. Berbagai cara dan jalan dicoba untuk mendapatkannya. Namun, terkadang manusia berjalan terlalu jauh atau membayar terlalu mahal, bahkan melupakan tujuan sebenarnya. Bahkan ada yang menginginkan kebahagiaan hidup tanpa mengetahui dengan pasti di mana tumpuannya dan ke mana arah kakinya melangkah. Tak heran bila dijumpai begitu banyak orang yang mengalami frustrasi, patah semangat, hilang rupa dan identitasnya sendiri. Bahkan banyak dari mereka yang gagal ini merasa hidupnya tak bermakna lagi, mengalami kekosongan makna yang dahsyat, sampai-sampai menempuh jalan pintas dengan bunuh diri.

David Knight, dalam bukunya “Menggapai Yesus: Lima Langkah Menuju Hidup dalam Kelimpahan” (Penerbit OBOR: Jakarta, 2001), menawarkan jalan hidup kepada kita, khususnya para pengikut Kristus, guna mendapatkan kebahagiaan itu dalam kelimpahannya. Bukan kebahagiaan semu yang terasa nikmat sesaat lalu lenyap tak berbekas. Sebagai orang-orangnya Kristus, kita hendaknya selalu menjadikan Dia tumpuan, harapan, dan sentral orientasi hidup kita bersama yang lain di dunia ini. Yesus dan jalan-jalan-Nya menjadi figur sentral dan tiada bandingnya dengan jalan duniawi lain yang ditawarkan kepada kita. Kebahagiaan yang dialami tersebut adalah buah-buah dari pilihan kita mengikuti Yesus. Tulisan ini merujuk pada gagasan David Knight dalam bukunya ini.

Arti mengikuti Yesus

Mengikuti Yesus berarti menapaki jalan kehidupan-Nya, dengan mengenakan keutamaan-keutamaan dan keprihatinan-Nya, serta pilihan-pilihan-Nya. Yesuslah sumber hidup bahagia yang dicari setiap orang itu. Dia adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6). Dia datang ke dunia supaya kita mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (bdk. Yoh 10:10). Keputusan untuk percaya atau tidak pada Yesus selaku hidup yang dicari itu merupakan suatu hal yang amat penting yang mesti kita ambil karena ini menentukan kehidupan kita sendiri.

Tidaklah cukup mengakui Yesus dengan kata-kata atau menerima secara intelektual bahwa Yesuslah penebus dunia. Bila kita sungguh-sungguh percaya bahwa hidup melimpah yang kita dambakan selama ini kita peroleh melalui persekutuan dengan-Nya, niscaya kita akan mengarahkan seluruh hidup kita ke arah pencapaian persekutuan itu. Bila kita sungguh-sungguh percaya bahwa Yesuslah jalan menuju hidup yang melimpah, mau tidak mau kita mesti mengikuti-Nya, mendasarkan segala hal yang kita lakukan pada kata-kata dan teladan hidup-Nya.

Kehidupan Kristiani sesungguhnya merupakan sebuah kematian terus-menerus terhadap apa saja yang kurang supaya bisa menghidupi nilai-nilai yang lebih tinggi. Kematian seperti ini sebenarnya bukanlah tanda kekalahan, tetapi justru kemenangan, “Sebab jika kamu hidup menuruti daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh Kudus kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Rm 8:13). Rasul Paulus di sini tidak hanya berbicara mengenai pentingnya menerima kematian badan supaya bisa memperoleh kehidupan kekal yang bahagia, tetapi mengenai kematian terhadap segala hal yang bisa mengurangi jawaban kita kepada Yesus Kristus di dunia ini sehingga kita pun mulai mengalami kelimpahan hidup itu, di sini dan sekarang. Pilihan mengikuti Kristus adalah komitmen kita. Segala pilihan serta komitmen lain dalam hidup kita tidak memiliki nilai abadi, kecuali kalau dengan cara tertentu merupakan tanggapan terhadap pribadi dan sabda Yesus Kristus sendiri.

Lima langkah pilihan radikal

Bila kita ingin menggapai kebahagiaan yang melimpah, David Night, seorang teolog yang meraih gelar doktornya dari Universitas Katolik Washington, D.C., mengajak kita untuk menapaki lima pilihan untuk mati dan bangkit bersama Yesus:

Langkah pertama, Pilihan menjadi Kristen.

Menjadi Kristen berarti menjadikan Yesus Sang Penyelamat sebagai seorang yang mengambil bagian secara aktif dalam segala hal yang kita lakukan. Untuk itu, kita harus mati terlebih dahulu terhadap harapan-harapan serta penyelamat-penyelamat palsu; mati terhadap segala keyakinan akan kemampuan diri sendiri dalam menggapai keselamatan dan kebahagiaan sejati supaya bangkit kepada Kristus Sang Penyelamat dunia dan menjadikan Yesus “partisipan aktif” dalam segala hal yang kita lakukan; berinteraksi secara sadar dengan-Nya dalam setiap aktivitas harian kita. Hanya melalui interaksi yang terus-menerus dengan Yesus, Sang Penunjuk Jalan dan Guru Kehidupan, kita bisa secara bertahap membebaskan diri dari kebudayaan kita yang gelap dan ternoda, dari prioritas-prioritas, nilai-nilai, dambaan-dambaan dan ketakutan-ketakutan yang telah diprogramkan dalam diri kita oleh kebudayaan tersebut, dan kemudian belajar dari pada-Nya untuk hidup dalam kelimpahan.

Persoalannya, “Apakah Anda yakin bahwa Yesus Kristus adalah Penyelamat dunia, satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan hidupmu sekarang ini dari apa yang sesungguhnya tidak Anda kehendaki terjadi?”

Langkah kedua, Pilihan menjadi Seorang Murid.

Menjadi murid berarti mau duduk di bawah kaki Yesus, Sang Guru sejati, dan mau belajar serta menghidupi kehidupan-Nya yang bersumber pada sabda dan teladan-Nya sendiri. Sebelum kita menjadi rasul Yesus, kita harus menjadi murid-Nya terlebih dahulu. Untuk itu, kita dituntut memasuki kuburan kedua supaya bisa bangkit bersama-Nya. Kita harus mati terhadap segala sesuatu yang menghalangi kita dalam menyediakan waktu dan perhatian untuk belajar dari-Nya. Hal-hal yang menjadi penghalang itu bisa berupa pekerjaan kita, hiburan-hiburan yang membawa kenikmatan, pengorbanan diri yang berlebihan dalam mempelajari hal-hal lain tanpa mempelajari sedikit pun ajaran Yesus, kemalasan, kesombongan, menganggap diri bahwa kita sudah cukup banyak belajar tentang agama, fundamentalisme picik, dan lainnya. Kita juga harus mati terhadap terang palsu dunia yang menyesatkan, mati terhadap asumsi bahwa kita tidak perlu susah payah memilih untuk menjadi murid Yesus karena kita juga bisa menemukan kebahagiaan dan mendapatkan apa yang kita inginkan bila mengikuti cara hidup, prioritas-prioritas, dan kecenderungan zaman serta gaya hidup modern: “yang penting enjoy”. Dengan demikian, kita akan semakin mengenal-Nya dan sanggup mencintai sebagaimana yang Dia kehendaki, dan dengan itu kita juga bisa melayani-Nya sebagaimana mestinya.

Persoalannya, apakah kita sadar akan belenggu-belenggu yang melilit jiwa dan badan kita selama ini? Acapkali kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu diri dengan baik; kita menganggap inilah diriku yang benar dan sebenarnya, padahal kita sedang menghayati diri palsu, kebenaran semu, oleh karena terbiasa dengan kepalsuan dan tak terbuka mata hati untuk melihat cahaya baru yang sejati. Acapkali kita hidup di tengah cahaya lilin yang samar-samar dan lantas mengganggapnya sebagai cahaya satu-satunya dan hanya itu; padahal di luar sana bulan purnama memancarkan kemolekan cahayanya dan matahari setia bangun dari tidurnya memancarkan sinar lembut di pagi hari, panas terik di siang bolong dan senja kemilau menawan di sore hari. Di sini dibutuhkan perubahan cara pandang dan persepsi kita, atau perubahan paradigma, dalam membaca sejarah kehidupan, dalam menangkap realitas yang menampak, dan dalam menyingkap selubung ketertutupan diri bagi hadirnya insight baru, kebenaran sesungguhnya. Hal ini penting sebab persepsi kita mempengaruhi cara pandang kita, dan hal ini berimplikasi pada pola pikir dan cara kita bertindak.

Langkah ketiga, Pilihan menjadi Seorang Nabi.

Menjadi nabi berarti menjadikan segala sesuatu dalam hidup kita sebagai ungkapan kesaksian akan Yesus Kristus. Untuk itu, kita harus mati terlebih dahulu terhadap ketakutan untuk berdiri sendiri dan ketakutan pada kemungkinan dikucilkan dari masyarakat sebagai risiko mengikuti Kristus. Inilah kuburan ketiga. Seorang nabi Kristus pertama-tama bukanlah seorang peramal masa depan, tetapi orang yang justru menciptakan masa depan itu sendiri. Para nabilah yang membimbing dan mengarahkan Gereja ke masa depan dengan cara menghidupi masa depan tersebut di dalam kehidupan mereka saat ini. Tindakan dan cara hidup para nabi biasanya mendahului pemahaman atau patokan moralitas yang sedang berlaku. Kesaksian para nabi sering kali mendahulu kelahiran sebuah hukum. Kebenaran luhur yang ditawarkannya mendapat penolakan bukan karena keliru, tetapi lebih karena belum waktunya. Dan ini dipahami sebagai karya Roh Kudus; sebuah jawaban terhadap kebutuhan zaman.

Persoalan menjadi seorang nabi sebetulnya terletak pada ketakutan untuk berdiri seorang diri, bahkan takut pada kesendirian di hadapan suara hatinya selaku pengadilan bisu. “No one likes to stand alone, not even before the silent trubunal of one’s own heart”. Seorang nabi harus berani mati terhadap konformitas sosial (cultural or social conformity) supaya bisa bangkit dan menjadi saksi Kristus yang sejati. Untuk itu, kita tidak perlu menjadi heroik terlebih dahulu. Kita hanya memerlukan sebuah langkah awal: Keberanian dan keteladanan hidup.

Langkah keempat, Pilihan menjadi Seorang Imam.

Menjadi imam di sini tidak berarti harus masuk seminari dulu, belajar filsafat dan teologi, lalu ditahbiskan. Tidak! Kita semua dipanggil dan diutus untuk memperantarai kehidupan Allah kepada sesama dalam pelayanan cinta kasih. Semua yang telah dibaptis dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus juga dibaptis untuk berpartisipasi di dalam imamat Yesus, Sang Imam Agung. Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (mat 10:28). Inilah makna menjadi imam Kristus: melayani tanpa syarat…. Untuk itu, kita harus masuk ke dalam kuburan keempat, mati terhadap agama yang bersifat tertutup (eksklusif) supaya bisa bangkit menjadi seorang pelayan sesama, tanpa diskriminasi (agama inklusif). Kita harus mati terhadap pikiran yang mengatakan bahwa agama adalah persoalan pribadi dan urusan privat. Kita juga perlu meninggalkan pikiran yang menegaskan bahwa kita bisa berdiri sendiri di hadapan Allah secara pribadi tanpa mempedulikan tanggung jawab terhadap sesama umat beriman maupun seluruh manusia. Kita lalu bangkit dengan mengenakan pikiran baru bahwa kita semua adalah saudara dengan Allah Yang Esa sebagai Bapa kita.

Langkah kelima, Pilihan menjadi Seorang Gembala/Pemimpin.

Kita diundang Tuhan untuk mengubah tatanan dunia menjadi lebih baik dan bermartabat. Saatnya kita diutus Yesus untuk meresapi segenap sudut kehidupan dan kegiatan manusia dengan prinsip-prinsip, nilai-nilai, sikap hidup, dan prioritas-prioritas yang dicontohkan dan diajarkan Yesus sendiri. Dalam gerakan pembaruan ini, orang-orang Kristen dituntut terlebih dahulu untuk mengenal serta menghormati tujuan-tujuan alamiah dan benar dari apa yang mau diperbarui. Misalnya, bisnis perlu ditransformasikan kepada kegiatan bisnis yang lebih baik, dan bukannya melulu diarahkan kepada kegiatan amal. Pendidikan perlu ditransformasikan kepada kegiatan pendidikan dan pengajaran yang lebih baik dan profesional, dan bukan semata-mata menekankan pelajaran Kitab Suci dan agama. Politik perlu ditransformasikan kepada kegiatan politik yang lebih manusiawi, dan bukannya menjadikan politik sebagai hamba dari kebijakan-kebijakan hierarki Gereja atau penguasa negara. Dan kehidupan sosial, supaya bisa diubah menjadi kehidupan sosial Kristiani, maka ia harus menyerupai “perkawinan di Kana” dan bukannya piknik ala kaum puritan.

Ketika ibu Yesus mengatakan kepada Yesus bahwa mereka kehabisan anggur, Yesus tidak menjawab, “Baik sekali kalau begitu; mereka seharusnya minum sirup saja!” Tidak sama sekali. Yesus justru menyugukan mereka anggur yang diubah-Nya dari air. Pesta perkawinan tetaplah pesta perkawinan. Dia hanya mengubah maknanya saja. Untuk bisa melakukan semuanya itu, kita harus mati terhadap segala perasaan putus asa dan ketakutan mengenai segala akibat yang bisa muncul sebagai risiko menghayati tanggung jawab membangun Kerajaan Allah mulai dari dunia ini. Inilah kuburan kelima.

Perlu kehendak baik untuk memulai

Kelima langkah menggapai kebahagiaan bersama Yesus yang ditawarkan kepada kita ini, bisa dijadikan pegangan bermakna untuk mati terhadap kecenderungan diri yang tidak sehat dan bangkit menjadi seperti Kristus. Siapa saja yang memilih dan menapaki langkah-langkah tersebut akan semakin menyadari keberadaannya dan semakin mengenal identitas serta panggilannya. Langkah-langkahnya praktis dan mudah dihayati dalam menggapai kelimpahan hidup bersama Yesus. Anda tidak perlu menjadi heroik terlebih dahulu untuk memulai menghayatinya. Anda bahkan tidak perlu menjadi seorang Kristen yang baik terlebih dahulu. Anda hanya perlu kehendak baik untuk memulainya. Sekaranglah waktunya. Kita bisa memulainya dari titik di mana kita berada. Tunggu apa lagi?***

By. Yon Lesek

Pemerhati Masalah Sosial-agama

Email: yonlesek@yahoo.com

Hp: 0813 8300 3674

Tidak ada komentar: