Sumbangan Tulisan

Terima kasih Anda telah mengunjungi blog ini. Semoga Anda terinspirasi untuk Diam Sejenak 'tuk merenungkan hidup ini.

Kirimkan renungan/refleksi/pengalaman iman Anda ke blog ini untuk ditampilkan agar pembaca terinspirasi. Anda bisa mengirimkan ke email: diamsejenak@gmail.com

kategori

Kamis, 07 Juni 2007

KEKUATAN TUJUAN HIDUP

”Salah satu perawatan yang dianjurkan bagi penderita kanker adalah “perawatan tujuan-hidup”. (Masaru Emoto)

Kanker begitu menakutkan banyak orang. Aku pun demikian. Kalau diberi pilihan, maka aku akan memilih tidak menderita penyakit kanker. Tetapi aku tidak bisa memastikan apakah aku tidak menderita penyakit yang membahayakan itu. Untuk itu, aku memilih untuk menjaga pola hidup sebagai tindakan preventif. Biasanya aku tidak suka makan sayur (kalau pun mau, itu tidak dimotivasi oleh kesadaran bahwa itu kebutuhanku). Ada insight baru yang membuka kesadaran dan sekaligus mendorong aku untuk merubah pola makan. Kata temanku, kebiasaan tidak makan sayur memiliki potensi besar kena kanker usus....wah siapa yang mau kena kanker? Akhirnya aku memutuskan untuk makan sayur dan mengurangi (dan bila perlu tidak) makan daging.

Kanker sangat membahayakan kehidupan siapapun! Kanker memiliki kemiripan dengan AIDS. Penderita AIDS, kata seorang dokter yang hari-harinya berkontak dengan penderita AIDS, mengalami keterasingan, kehilangan harapan hidup, useless, dan dalam benak mereka hanya ada kematian. Mereka sangat sensitif! Jika dokternya agak sibuk sehingga kurang memberi perhatian, mereka sangat marah dan menganggap mereka sudah tidak diperhatikan lagi.

Dampak-dampak psikologis yang ditimbulkan oleh penyakit kanker dan AIDS juga bisa menimpa siapa saja walau pun de facto tidak menderita penyakit yang membahayakan itu. Dampak-dampak itu tampak dalam ungkapan-ungkapan berikut: ”Aku terperangkap dalam rutinitas yang menjemukan! Aku tak punya kehidupan! Tenagaku habis- capek sekali! Hidupku hampa dan tak bermakna! Ada sesuatu yang hilang! Aku marah dan takut! Aku tak sanggup menghadapi kenyataan hidup! Aku tidak bisa mengubah keadaanku!”. Salah satu penyebab utama adalah tidak adanya tujuan hidup. Tujuan hidup memiliki kekuatan besar dalam peziarahan hidup ini. Sebagai ilustrasi, sepasang kekasih setelah melihat indahnya kebersamaan memutuskan untuk menikah. Keindahan akan kebersamaan tidak akan punya kekuatan apa-apa jika tidak ada tujuan bersama untuk membangun bahtera rumah tangga yang harmonis dan penuh kasih, baik dalam suka maupun dalam duka. Tanpa tujuan bersama ini, keindahan kebersamaan itu akan segera pudar dan redup. Manakala menghadapi kesulitan dan ketidakcocokan, keduanya akan memutuskan untuk mengakhiri keindahan kebersamaan itu. Kehidupan anak-anak pun tidak diperhitungkan. Mereka meninggalkan luka dalam hidup anak-anak mereka. Sungguh mengenaskan!

Kita perlu membangun tujuan hidup. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: ”Apa tujuanku bersekolah? Apa tujuanku bekerja? Apa tujuanku membangun rumah tangga? Apa tujuanku memilih pilihan hidupku ini? Dan akhirnya apa tujuan keberadaanku di dunia ini?

Ketika kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita (dan terus-menerus merawatnya), kita akan tetap memiliki semangat mewujudkan tujuan itu. Bahkan ketika kita putus-asa dalam mencapainya, kita akan pasti segera pulih dan menggapai tujuan itu. Kita akan melakukan hal-hal yang baik, indah, dan berarti dalam hidup ini, baik untuk diri kita sendiri dan keluarga maupun untuk orang lain.

Kita tidak perlu membiarkan “kanker” merenggut kebahagiaan yang telah disediakan oleh Tuhan dalam hidup kita. Untuk itu, kita perlu menentukan tujuan hidup kita. Dan kita perlu tahu bahwa tujuan hidup kita adalah Tuhan sendiri, Sang Sumber Kebagiaan. (Bastian-Wawan)

Tidak ada komentar: