Sumbangan Tulisan

Terima kasih Anda telah mengunjungi blog ini. Semoga Anda terinspirasi untuk Diam Sejenak 'tuk merenungkan hidup ini.

Kirimkan renungan/refleksi/pengalaman iman Anda ke blog ini untuk ditampilkan agar pembaca terinspirasi. Anda bisa mengirimkan ke email: diamsejenak@gmail.com

kategori

Sabtu, 04 Agustus 2007

Pertahankan Egomu Jika Ingin Menghancurkan Keluargamu….!

Fenomena hancurnya keluarga sudah menjadi rahasia umum. Kehancuran keluarga tidak pernah dibayangkan dan diharapkan oleh setiap orang manakala memutuskan untuk hidup bersama. Tetapi kelanggengan dan keharmonisan adalah cita-cita mereka. Kelanggengan dan keharmonisan dalam rumah tangga tidak tercipta dengan sendirinya. Masing-masing anggota keluarga harus berjuang habis-habisan untuk mengusahakannya. Masing-masing orang harus membayar harga dengan mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Mengesampingkan kepentingan diri sendiri mau mengatakan betapa masing-masing anggota keluarga memiliki sikap batin yang siap menerima perbedaaan, siap berkonflik secara dewasa dan siap menerima kritik dengan rendah hati.

Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat bercerita kepada saya tentang kesedihannya menyaksikan rumah tangga keluarga sahabatnya. Setelah 2 tahun membangun bahtera rumah tangga, kedua sahabatnya memutuskan untuk “berpisah”. Perbedaan pandangan, kecurigaan, dan kesibukan yang tidak memberi peluang untuk saling memperhatikan menjadi alasan bagi pasangan ini untuk berpisah. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari. Padahal, jika melihat kembali kisah “perjalinan cinta” mereka, kata sahabatku, kita memiliki harapan besar akan kelanggengan dan keharmonisan rumah tangga yang akan mereka bangun. Menyedihkan! Harapan itu tidak menjadi kenyataan. Memenangkan kepentingan sendiri rupanya menjadi dasar kehancuran harapan bersama.

Sahabatku memiliki alasan untuk sedih. Siapa pun akan merasakan hal yang sama, termasuk diri saya sendiri. Kesedihan dan keprihatinanku menggema kembali bila mengingat kembali pengalaman-pengalaman teman-teman yang gelisah, marah, dendam terhadap orang tua mereka yang “menghancurkan” kehidupan mereka hanya karena keegoisan dan ketidakdewasaan dalam membangun bahtera keluarga. Betapa hati mereka hancur saat kedua orang tua mengkambing-hitamkan atau menjadikan mereka sebagai sasaran kemarahan atas pasangannya. Saya hanya berharap teman-teman atau siapa pun yang mengalami kepahitan di dalam keluarga hendaknya memiliki sikap hati yang mau mengampuni. Pengampunan adalah jalan satu-satunya membuka mata kita untuk menatap masa depan.

Jumat, 03 Agustus 2007

MENERIMA PERISTIWA PAHIT

Apa yang Anda lakukan, manakala Anda mendengarkan bahwa orang yang Anda cintai sedang sakit parah......? Pasti, Anda akan kuatir! Gelisah! Ketakutan akan kehilangan orang yang dicintai akan melintas dibenak Anda. Ketakutan itu akan terasa kuat jika Anda pernah kehilangan orang yang Anda cintai. Itulah yang aku rasakan ketika mendengar berita tentang mama yang sedang sakit. Permenungan demi permenungan, aku belajar menerima akan segala apa yang terjadi.....

Ada saat-saat tertentu dalam hidup kita, entah itu dalam waktu dekat atau dalam waktu yang lama, kita akan berhadapan dengan kenyataan akan kehilangan orang-orang yang kita cintai..... Betapa menyakitkan! Tetapi, pada akhirnya kita harus sampai pada sikap batin bahwa kebahagiaan kita terletak pada saat kita melepaskan dan bukan pada saat kita menggenggam. Manakala kita berusaha menggengam dengan erat-erat, maka kita pun akan menjadi orang-orang yang marah dan tidak mampu melihat rahmat yang tersimpan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga kita menjadi orang yang belajar menerima dan memaknai kenyataan pahit dalam hidup ini.

bastian-wawan